buku islam buku pesantren:

Menjawab Vonis Bid'ah

Share
Menjawab Vonis Bid’ah
Kajian Pesantren, Tradisi dan Adat Masyarakat
Hlm : 363 + xxii Halaman
Ukuran : 16 x 24 cm
Cover : 310 Gr, Doff Spot
ISBN : 978-602-97112-0-2
Harga : Rp. 50.000,-
“Bila para Aktifis Muda NU di dunia akademisi melakukan berbagai penelitian atas fakta semakin menguatnya ancaman gerakan Islam Transnasional di Indonesia yang telah begitu menggurita dan menggegerogoti ‘tubuh’ NU, bahkan mengancam kelanggengan NKRI, maka dari balik “tembok kokoh” Pesantren, para Aktifis Mudanya secara kontinyu menggelar telaah ilmiah dalam rangka mendialogkan berbagai budaya yang diperdebatkan kepada Syarî’at dengan tuntunan para Ulama terdahulu serta mensosialiasikannya ke tengah masyarakat.”
Prof. DR. KH. Tholhah Hasan
Musytasyar PBNU,
Mantan Menteri Agama RI

”Masih banyak masyarakat Muslim Indonesia masih ngugemi dawuh-dawuh para Sesepuh. Namun di sisi lain tidak sedikit yang berbalik arah tanpa tedeng aling-aling lagi berani menggugat ajaran para Sesepuh yang sudah tawaruts dari Wali Sanga, Ulama Mujtahid dan Rasulullah SAW beserta Sahabatnya.”
KH. Abdul Aziz Manshur
Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyiin Jombang,
Ketua Umum HIMASAL PP. Lirboyo Kota Kediri

 “Dengan isinya yang meliputi berbagai budaya khas Nahdhiyin dan Pesantrennya, semisal Tahlilan, Mauludan, dan Tirakat serta berbagai budaya lokal lainnya seperti Adat Seputar Kehamilan dan Kelahiran, Adat Seputar Kematian, Adat Seputar  Pernikahan dan Lintas Adat, buku ini mengajak para pembaca agar dalam menyikapi berbagai tradisi  dan  adat masyarakat lebih mengedepankan cara-cara yang bijak dan bertanggungjawab serta kehati-hatian, tidak langsung antem kromo semaunya sendiri.”
K. Zahro Wardi
 Perumus FMPP Se Jawa -  Madura

Buku ini berisikan kajian yang mencoba mendialogkan budaya kaum khas Nahdliyin, seperti tahlil, mauludan, manaqiban, tawassul, ngalap berkah, dan lain sebagainya. Buku ini mampu membuktikan bahwa budaya Nahdliyin adalah budaya yang sarat dalil, bukan hanya tradisi nenek moyang tak berdasar. Ini bermaksud agar bisa menyikapinya secara bijak tanpa terburu-buru memvonis sesat, bid’ah, atau kafir pada sesama Muslim.

0 Comments

0 comments:

Posting Komentar

2007 © @bukupesantren
searching #bukupesantren on | Follow @bukupesantren