#bukuislam

#Bukupesantren

Fathul Qorib al Mujib

Penerbit @sidogiri
Pengarang : Syaikh Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad as-Syamsi
Cetakan I : Ramadhan 1430 H.
Tebal : 206 hlm.
Ukuran : 24 x 16.5 
Harga : Rp 35.000

“Kitab klasik ini telah di renofasi oleh BATARTAMA dan PUSTAKA SIDOGIRI Pondok Pesantren Sidogiri, yang bertujuan untuk membantu para pembaca agar lebih mudah memahami setiap lafad dari Pengarangnya dengan sedikit penambahan tanda-tanda di dalamnya.
Hal ini tidak lepas dari sebuah prinsip “al-Muhafadzah ‘ala al-Qadimi as-Shalih, wal Akhdu bi al-Jadidi al-Ashlah”. sehingga faidah-faidah yang terdapat dalam Kitab ini bisa diserap langsung oleh para pembacanya.
-- Penerbit

Al-Faraid Al-Bahiyyah

Penerbit : @sidogiri
Pengarang : As-Sayyid Abi Bakar bin Abi al-Qasim al-Hasani al-Yamani
Cetakan I : Ramadhan 1430 H.
Tebal : 152 hlm.
Ukuran : 20. x 16 cm.
Harga : Rp 25.000

“Kitab ini adalah kumpulan Kaidah-kaidah fikih. Guna mempermudah Umat Islam dalm mengetahui Hukum-hukum dari setiap permasalahan.
Kaidah-kaidah didalamnya berbentuk nadzam serta penjelasan-penjelasan Syarih yang sangat mudah dipahami oleh setiap kalangan.
Karena dimanapun kita berada, disitu pula fikih berada. Permasalahnnyapun tak kunjung habis untuk kita bahas.
Kitab ini akan sangat membantu utnuk merumuskan hukum dari setiap permasalahan yang kita hadapi.”

-- Penerbit

Nadzmul Khulashah Alfiyah Ibnu Malik (jilid I & II)

Judul Kitab : Nadzmul Khulashah Alfiyah Ibnu Malik (jilid I & II)
Pengarang : Imam Muhammad bin Abdullah bin Malik. 
Cetakan I : Ramadhan 1432 H. 
Tebal : 172 & 152 hlm.
Ukuran : 20. x 14 cm. 
Harga : Rp 20.000
Imam Muhammad bin Abdullah bin Malik telah mengarang seribu bait yang menjelaskan ilmu gramatika arab meliputi Nahwu dan Sharraf. Kitab ini telah digunakan di berbagai pesantren sebagai alat untuk mengetahui dan mempelajari cara merangkai kalimat serta memahaminya dengan baik.

Badan Tarbiyah Wataklim Madrasiy telah bekerja sama dengan Penerbit Pustaka Sidogiri untuk menerbitkan kitab ini yang telah dilengkapi dengan terjemah dan contoh-contoh yang mudah, serta gampang dipaham oleh pembacanya. tiada lain semua ini bertujuan untuk lebih memudahkan para pembaca dan lebih memperjelas maksud dari Mushannif kitab tersebut.”


Maqosidun Qowaidul I’rob Pengantar Memahami Qowaidul I’rob

 ilmu nahwu dan ilmu shorof  diciptakan  bertujuan menjaga kesalahan lisan dalam mengucapkan kalam arab serta sebagai penghantar memahami ilmu-ilmu agama islam  seperti ilmu fiqh ,ilmu tauhid ,  ilmu tashowwuf , terlebih untuk memahami kandungan makna al-Qur’an dan al-hadits

kitab “ Qowaidul I’rob “ merupakan adi karya luhur  Syekh Yusuf bin Abdul Qodir alBarnawi yang memuat kaedah-kaedah dalam menerangkan I’rob , yang merupakan salah satu cabang dari ilmu Nahwu yang harus di pelajari oleh para santri  supaya dapat memahami secara benar alQur’an dan hadits , dan terhindar dari kesalahan dalam lafadz alQur’an sebagaimana sabda Nabi dan atsar para sahabat  .

أَعْرِبُوْا الكَلاَمَ كَيْ تَعْرِبُوْا القُرْأَنَ
“ I’robilah kalam supaya kalian bisa mengi’robi alQuran .”
Sayyidina Umar al Khottob   berkata ;

لِأَنَّ إِعْرَابَ أَيَةٍ مِنَ القُرْأَنِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَحْفَظَ أَيَةٍ بِلاَ إِعْرَابٍ
“ Sesungguhnya mengi’robi satu ayat saja dari alQur’an itu lebih kusukai dari pada aku hafal satu ayat tanpa dengan I’rob .”

Dan  kitab Maqosidu Qowaidul I’rob ini akan menghantarkan memahami kitab qowaidul i’rob  secara mendetail dan menyeluruh karena disertai dengan penjelasan –penjelasan  dari berbagai kitab syarah seperti Kifayatul Ashhab, Kawakib ad Durriyah , Tashil Nailil Amani , Mughni Labib, , Nadhom Alfiyyah Ibnu Malik, Ibnu ‘Aqil, Jami’ud Durus al ‘Arobiyyah, al Asymuni Syarh al Fiyah Ibnu Malik,   Mutamimah alJurumiyyah, Mukhtashor Jiddan  Al Ajurumiyyah, Faroid an Nahw al Wasimah dan lain-lain.

`Dengan melihat  hal tersebut penguasaan pokok-pokok dan tujuan  kaidah-kaidah i’rob (Maqosidu Qowaidul I’rob ) mutlaq diperlukan, karena menguasainya secara mendetail merupakan  kunci dan syarat untuk dapat mengkaji ajaran islam secara luas dan mendalam bagaikan lautan .

Maqosidun Qowaidul I’rob
Pengantar Memahami Qowaidul I’rob
Penerjemah : A. Syanwani Midkhol
ukuran 24 x 16 cm halaman xii + 207
@45K

Mabadi Nahwiyah Pengantar memahami Jurumiyyah

Mabadi Nahwiyah
Pengantar memahami Jurumiyyah
Penerbit Darul Hikmah
Penulis M. Sholihuddin Shofwan
Tebal 164 Halaman
Ukuran 16 x 24 Cm
Cover Soft Cover
Jenis Kertas HVS 70 Gram

Buku ini akan mengantarkan Anda di dalam memahami dan mendalami Ilmu Nahwu. Utamanya dasar-dasar Nahwu (Mabadi An Nahwiyyah) yang mutlaq dibutuhkan.

berikut sedikit mengenai ilmu nahwu :

Abul Ilmi, ayahnya ilmu. Itulah sebutan yang diberikan para ulama untuk ilmu Nahwu. Ilmu ini bertujuan menjaga kesalahan lisan dalam mengucapkan kalam Arab, serta sebagai Istianah (lantaran) di dalam memahami Al-Quran dan Hadits. Juga dinamakan Ilmu Alat, karena semua ilmu agama seperti Ilmu Fiqih, ilmu Tauhid, ilmu Tasawwuf dan semua ilmu yang berbahasa Arab akan menjadi mudah memahaminya lantaran ilmu Nahwu.

Mabadi Nahwiyah Pengantar memahami Jurumiyyah

Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri 2

Judul Buku : Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri 2
Penyusun : Redaksi Majalah Ijtihad
Editor : Syamsu-l Arifyn Munawwir
Sampul Muka : zeffah
Tata Letak : @-yat
Tebal : 352 hlm.
Ukuran : 14.5 x 21 cm.
Harga : Rp 75.000

Siapapun yang dibicarakan oleh sejarah, maka ia pasti memiliki sisi-sisi tertentu yang luar biasa. Begitu pula, para tokoh yang termaktub dalam buku ini. Beliau adalah tokoh-tokoh yang luar biasa dalam memegang prinsip hidup, khususnya yang terkait dengan prinsip keagamaan mereka.
-- d. Nawawy Sadoellah
Katib Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri

Buku Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri II ini membantu memberikan gambaran yang pas atas sejarah kehidupan, akhlak, ibadah dan semangat perjuangan mereka.
-- A. Saifulloh Naji
Sekretaris Umum Pondok Pesantren Sidogiri

Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri 1

Judul Buku : Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri 1
Pengarang: Redaksi Majalah Ijtihad
Editor : Syamsu-l Arifyn Munawwir
Sampul muka: Ali Hafidz
Tata Letak : @-yat
Cetakan I : Ramadhan 1431 H.
Tebal : 78 hlm.
Ukuran : 21 x 15.5 cm.
Harga : Rp 65.000

“Ikutilah amal perilaku beliau, jadikanlah sebagai suri teladan dan contohlah kesufiannya”
-- KH. Fuad Noerhasan
Anggota Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri

“Buku Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri ini membantu ‘membacakan’ fakta historis kepada pembaca agar memperoleh gambaran nyata tentang hidup, pandangan, dan kegigihan perjuangan Masyayikh dalam menegakkan panji-panji kebenaran di tengah badai ketidak-menentuan umat dalam menentukan arah kehidupan.”
-- HM. Masykuri Abdurrahman
Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri

MASTERPIECE ISLAM NUSANTARA: Sanad dan Jejaring Ulama - Santri (1830 - 1945)

MASTERPIECE ISLAM NUSANTARA: Sanad dan Jejaring Ulama - Santri (1830 - 1945)

Penulis: Zainul Milal Bizawie
Ukuran: 16 x 24 cm
Tebal: xx + 560 hal
Diterbitkan oleh: Pustaka Compass
Harga: 130.000

Islam Nusantara sudah ada jauh sebelum negeri ini merdeka. Islam Nusantara merupakan Islam yang didakwahkan dengan damai, anti-kekerasan, berdampingan dengan budaya dan kearifan lokal. Oleh karena itu, dengan mudah kita akan menjumpai Islam yang damai, ramah, toleran, santun, dalam Islam Nusantara.

Melalui buku ini, kita akan mendapatkan informasi tentang sejarah dakwah Islam di Indonesia oleh ulama yang dilakukan dengan damai dengan ikhtiar membangun jati diri dan karakter bangsa melalui Sanad dan Jejaring Ulama - Santri. Kontribusi penting ini secara nyata mampu melestarikan tradisi Islam Nusantara. Salah satunya melalui ribuan naskah Ulama Nusantara yang mentransformasikan pengetahuan melalui berbagai metode pengajaran seperti sorogan, bandongan, kilatan, dll. Selain kitab-kitab sebagai bukti eksistensi Islam Nusantara, ada pula kita jumpai makam, pesantren, perkampungan, ritual dan sebagainya yang terus bertahan sejak berabad-abad yang lalu.

Menurut Zainul Milal Bizawie, diperlukan kerangka pemetaan jejaring, transmisi ideologi dan kultural, serta genealogi pengetahuan. Pemetaan jejaring menjadi pondasi pelacakan tokoh, subyek dan agency, dalam hal ini ulama, kiai dan santri sebagai mata rantai proses penyebaran nilai-nilai. Sedangkan transmisi ideologi menjadi tulang punggung dari kerangka epistemik dalam Nalar Islam Nusantara. (Hal 2)

Genealohi pengetahuan menjadi basis utama untuk merangkai benang merah, titik temu dan tujuan mendasar dari transmisi Islam ke kawasan Nusantara. Dengan melacak genealogi, akan muncul pola, corak dan struktur dari keilmuan yang terkandung lewat tradisi Islam Nusantara. Dalam konteks inilah buku ini berupaya menampilkan wajan Islam di Nusantara secara historis sekaligus epistemologis sehingga memudahkan kita menyelami heterogenitas kultural dan variatif manifestasi keIslaman di Nusantara. Namun, heterogenitas tersebut justru memperkaya khazanah dan saling bersinergis untuk membangun Islam yang Rahmatan lil alamin. (Hal 3)

MASTERPIECE ISLAM NUSANTARA: Sanad dan Jejaring Ulama - Santri (1830 - 1945)

Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949)

Judul         : Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949)
Penulis      : Zainul Milal Bizawie
Penerbit    : Pustaka Compass, Tangerang
Tahun       : Cetakan I, Januari 2014
Tebal        : xxxii + 420 halaman
Peresensi  : Fathoni, Mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta
Harga : Rp 100,000,-


Peran sentral ulama-santri pada masa revolusi kemerdekaan telah terpinggirkan dalam penulisan sejarah ‘resmi’ negara. Itulah pernyataan Dr. KH. A. Hasyim Muzadi dalam endorsement-nya di buku ini. Tidak mudah mendapatkan ‘rasa’ sejarah ketika menelusuri episode sejarah yang hampir satu abad nyaris terpinggirkan atau lebih tepatnya dipinggirkan. Memang susah ditemukan peran ulama atau santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, bahkan dalam buku sejarah nasional yang dipelajari selama 12 tahun di bangku sekolah.

Sangat ironis ketika faktanya ulama seperti KH. M. Hasyim Asy’ari dan santrinya yang tidak lain adalah anaknya sendiri KH. A. Wahid Hasyim adalah pahlawan nasional dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dan membangun Dasar Negara.

Buku ini, Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949) yang ditulis oleh Zainul Milal Bizawie ingin menunjukkan bahwa sejarah seharusnya mengkaji dengan jernih adanya kepentingan politik yang terdapat dalam relasi kuasa (power relation), atau yang dikenal dengan politik pengetahuan (politic of  knowledge). Dengan kata lain, perlunya kesadaran akan saling berkelindannya atau berjalan seiring antara penulisan sejarah dengan kekuasaan.

Dalam Muqaddimah-nya, Ibnu Khaldun juga mengkritik penulisan historiografi sejarah yang tidak sesuai dengan fakta seseorang. Yaitu ketika Khalifah Harun ar-Rasyid dalam sejarah ditulis sebagai seorang yang suka madat dan madon, karena faktanya sang Khalifah adalah seorang yang pemberani, cerdas, dan bijaksana. Mana mungkin sejarah Harun ar-Rasyid ditulis seperti itu jika tidak ada faktor politik kekuasaan.

Milal yang juga seorang santri menyadari bahwa jika santri sendiri yang tidak menulis sendiri sejarahnya, siapa yang akan menulis. Karenanya, buku ini mencoba memaparkan suatu plot cerita kiprah ulama-santri yang secara tidak disadari mengungkap rangkaian fakta-fakta yang telah membangun sebuah episteme yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

Bagian pertama buku ini mengungkapkan kajian mistifikasi yang dibangun secara simbolik sebagai dasar perjuangan ulama-santri. Bagi santri dan masyarakat, seorang ulama atau Kyai dianggap sebagai pengawal agama dan penunjuk jalan kebaikan. Posisi ulama atau Kyai sangat penting menjadi symbol perlawanan atau perjuangan. Kemampuannya dan kesaktiannya yang luar biasa akan memperteguh daya kohesi dan motivasi bagi santri dan masyarakat untuk memposisikan ulama sebagai panutan (hal.17).

Bagian kedua buku ini mengungkapkan perlawanan ulama dan santri sejak Syekh Yusuf al-Makassari hingga turun-temurun membentuk jaringan perlawanan ulama kepada Syekh Hasyim Asy’ari dan Kyai Wahab Chasbullah (Pendiri NU) yang tak pernah padam meski kolonial Belanda telah semakin berkuasa. Bahkan karena tindakan kolonial Belanda yang terus menindas dan mengganggu tegaknya agama Islam, ulama-santri tidak pernah padam melakukan perlawanan terhadap kolonial sehingga meledakkan perang besar, yaitu Perang Jawa Diponegoro sebelum era Mbah Hasyim Asy’ari.

Bagian ketiga buku ini memaparkan lebih jauh pergerakan ulama-santri melawan kolonial Belanda dengan politik etisnya yang membuat kalangan pesantren begitu terpinggirkan. Datangnya Jepang yang memposisikan diri sebagai saudara tua menghadirkan penjajahan baru yang tak kalah kejamnya hingga akhirnya ulama-santri membentuk laskar Hizbullah.

Terbentuknya Hizbullah awalnya keinginan Jepang merangkul umat Islam seluruh Indonesia untuk dilatih militer dan dikirim ke Jepang bergabung dengan Heiho melawan tentara sekutu, namun dengan gagasan brilian KH. Hasyim Asy’ari laskar santri tersebut terpisah dengan Heiho dan membentuk barisan tersendiri yaitu Laskar Hizbullah. Laskar ini dibentuk Mbah Hasyim untuk mempersiapkan kemerdekaan RI sekaligus mempertahankannya.

Perjuangan Mbah Hasyim tidak berhenti sampai di situ, bagian keempat buku ini menjelaskan secara detail gagasan KH. Hasyim Asy’ari dalam mencetuskan fatwa Resolusi Jihad dimana fatwa tersebut mampu menggerakan Pemerintah RI dan seluruh bangsa Indonesia khususnya yang beragama Islam untuk bersama-sama melawan tentara Sekutu yang diboncengi NICA Belanda.

Laskar Hizbullah, Fisabilillah, dan seluruh rakyat Indonesia berbekal fatwa jihad Mbah Hasyim yang diteguhkan Resolusi Jihad, pantang mundur menolak kedatangan kolonial. Resolusi Jihad tersebut menyeru seluruh elemen bangsa khususnya umat Islam untuk membela NKRI. Pertempuran 10 November 1945 meletus, laskar ulama-santri dari berbagai daerah berada di garda depan pertempuran. Perjuangan laskar ulama-santri terjadi di berbagai daerah terpompa semangat Resolusi Jihad Mbah Hasyim Asy’ari.

Pada bagian kelima menjelaskan bahwa perjuangan ulama-santri berlanjut dalam pertempuran melawan penjajah bahkan eskalasinya semakin keras diiringi dengan berbagai strategi diplomasi. Karena yang diusung oleh para ulama adalah politik kebangsaan, maka laskar Hizbullah tidak mempermasalahkan kebijakan-kebijakan Negara terkait dengan tentara Negara. Bahkan para ulama tetap menjaga semangat juang dengan meneguhkan kembali resolusi jihad jilid II. Meskipun perjanjian Linggarjati dan Renville telah merugikan, namun semangat juang ulama-santri tetap berkobar. 

Bagian keenam yang merupakan bagian terakhir buku ini mengupas tentang ulama pesantren dan bambu runcing. Kisah tentang karomah dan kehebatan para Kyai serta kehebatan bambu runcing yang telah mendapatkan doa dari para Kyai. Kisah-kisah yang menurut sejarawan barat tidak rasional tapi telah menjadi realitas sejarah Nusantara pada umumnya. Sebut saja sejarawan Prancis, Voltaire (w. 1778) dengan teori progresifnya bahwa sebuah peristiwa sejarah haruslah bersifat positivistik, rasional, dan dapat dinalar. Oleh sebab itu, teori progresif Voltaire tidak bisa digunakan untuk membaca sejarah Nusantara.

Dari bagian pertama hingga keenam, nampak bahwa ulama-santrilah yang mampu secara konsisten mengadakan perlawanan terhadap kolonial. Dengan kata lain, ulama dan pesantren menjadi simbol perlawanan kolonial. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa satu-satunya elemen bangsa yang tidak pernah terjajah oleh kolonial adalah ulama-santri dan pesantren, bahkan menjadi garda depan dalam menumpas kolonialisme.

Buku ini menjadi bacaan ‘wajib’ bangsa Indonesia agar sejarah yang sesungguhnya dapat dibaca secara komprehensif, tidak anakronistik (sepenggal-penggal) sehingga memperteguh serta mengokohkan jati diri dan martabat bangsa Indonesia.

Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949)

searching #bukuislam #bukupesantren
2007 © @bukupesantren
searching #bukupesantren on | Follow @bukupesantren